Rabu, 28 September 2011

Kontribusi Ekonomi terhadap perilaku konsumen dalam masyarakat yang Islami

Sebuah analisis Utilitas yang dikembangkan oleh Austrian marginalist school dan oleh Alfred Marshall telah mengakar dalam “economic rationalism” rasionalisasi ekonomi dan “utilitarianism” yang mana kedua sumber ini telah telah sangat berpengaruh dalam sebuah formasi dan adanya aliran baru dari sebuah kapitalisme di Negara-negara Eropa pada abad 17, 18 dan 19. Pada abad 19 perkembangan telah pesat di beberapa atmospir kehidupan, diantaranya adanya pengakuan sebuah aliran kapitalisme baru. Oleh karena itu, tidak pernah ada yang dapat melepaskan sebuah basis pilosopis dari sebuah merk kapitalisme itu.  Bukannya berarti tidak ada perbedaan. Max weber, seorang serjana sosiolog terkemuka, telah sangat membenarkan hal itu dalam bukunya yang sangat terkenal “ The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” bahwasanya “ economic rationalism” tidak hanya dari rasional yang dapat dijelaskan dari sisi phenomena ekonomi. Tetapi juga sebagai contoh dapat dirasionalisasikan dengan format yang islami melalui rasionalisasi yang lain.
            Rasionalisasi Islam berdasarkan sebuah kepercayaan ideology dari kemahaesaan Tuhan (Allah) dan Agama serta sebuah Kitab, yang mana sesuai kepercayaan ini, kehidupan manusia difahami sebagai satu keutuhan yang mengarah pada satu tujauan terakhir. Tujuan ini banyak diungkapkan dalam rukun Iman dan beberapa literature seperti BerIman kepada Allah. “entering the Paradise” Masuk surga/ adanya surga, “worshipping Allah” beribadah kepada untuk menyelamatkan diri dari neraka, adanya balasan/ pengadilan di Hari Kiamat dll. Sesungguh semua ini hanya semata-mata untuk memperoleh ridlo Allah SWT.
Pernyataan satu tujuan itu untuk kehidupan manusia ada efek yang mempengaruhinya sehinngga dapat mempersatukan prilaku manusia pada prakteknya dan menyangkal bahwa itu bukan tiruan, jadi disini memang ada perbedaan pilosofi dan anggapan tentang “new capitalism” kapitalisme baru. Rasionalisme keislaman telah menggantikan dalam menyelesaikan beberapa masalah prilaku kehidupan manusia dari dari pada rasionalisme economi barat yang gagal untuk menyelesaikannya dan juga karena bekgron sejarah yang menjelaskan bahwa rasionalisme kapitalis adalah asing bagi ekonomi yang islami dan dalam sikap prilaku yang islami, disamping itu rasionalisme Islam tidak mengabaikan hal penting dari keinginan (wants) manusia, kebutuhan (need) dan kepuasan. Dalam hal ini rasionalisme ekonomi capitalis dan pilosopy megimpikan dari abad pertengahan bahwa Eropa tidak dapat menjelaskan prilaku manusia dengan pembagianya. Ini sebagian besar melihat fakta bahwa kedua system mengambil ukuran diametric kebalikan dengan mengamati posisi kerja manusia dalam prilakunya.
 be continou .............
..................